WordPress Caching: Memilih Plugin Caching Terbaik untuk Blog

Wordpress Caching

Pernah tidak ngerasain jika blog WordPress kamu berat?
Atau, waktu loading yang lama?

Jika jawabannya pernah, kemungkinan besar kamu belum menerapkan caching pada blog WordPress yang kamu kelola.

Saya akui jika caching itu ribet dan susah. Untuk menjelaskan caching secara rinci, rasanya tidak cukup blog posting saja. Saya mungkin bisa menjadikan topik caching sebagai sebuah buku.

Karena rumitnya caching, alih-alih mempercepat blog. Salah konfigurasi caching berakibat pada blog yang lebih berat dan lebih lambat.

Seram kan

Terima kasih untuk WordPress. WordPress memiliki sistem plugin. Yaitu sistem yang bisa meng-extend funsionalitas. Dengan plugin, kita bisa meng-extend fungsionalitas caching hanya dengan beberapa klik saja.

Masalahnya

Ada puluhan atau bahkan ratusan caching plugin yang tersedia untuk WordPress. Tentu, memilih plugin caching terbaik tidak mudah juga.

Kabar baiknya, pada post ini saya akan membandingkan secara objektif enam caching terpopuler di WordPress. Dan menjawab manakah caching plugin terbaik.

Apa itu Caching?

Setiap pengunjung yang datang ke blog kamu. Pasti meminta resources ke server. Resources tersebut bisa berupa halaman web, gambar, video, query database, css, js, dll. Server selanjutnya memberikan resources yang diminta ke pengunjung melalui browser.

Karena server sering kali harus mencari dan memproses setiap permintaan, maka diperlukan waktu yang tidak sedikit.

Rata-rata blog memerlukan 10-200 permintaan (request) ke server untuk me-loading satu halaman penuh.

Katakanlah visitor blog kamu 100 pengunjung per detik, dengan requests 50 untuk menampilkan satu halaman. Maka setiap detik server kamu memproses 5000 request.

Bayangkan jika visitor kamu lebih benyak, berapa request yang harus server handle setiap harinya. Jika server tersebut kewalahan, besar kemungkinan blog kamu akan berat, loading lama, atau bahkan down!

Caching adalah solusi dari masalah di atas. Caching membantu server meminimalisir request. Caranya adalah dengan memberikan intruksi ke server untuk menyimpan file atau query yang sering di request di tempat paling mudah diakases (cache).

Cache secara fisik bisa berupa borwser, memory, atau disk.

Cara kerja caching

Cara kerja caching

… Sehingga, jika requests atau query yang sama kembali diminta, server tidak perlu mencarinya kembali. Tinggal mengambil langsung dari cache.

Kapan Perlu Caching?

Meskipun caching bisa membantu blog kamu loading lebih cepat atau meringankan beban server. Terkadang blog kamu memang belum memerlukan caching.

Misalnya, blog yang baru dibuat belum memerlukan caching.

Kenapa? karena blog baru sudah cukup cepat dan cukup ringan untuk meng-handle request. Menambah plugin caching justru overkill.

Blog yang memerlukan caching adalah blog yang memiliki trafik tinggi, blog dengan sumber daya server yang hampir penuh.

Tentang WordPress Caching

WordPress memiliki banyak plugin caching. Meskipun begitu, kamu tidak perlu menginstall banyak plugin caching sekaligus. Faktanya, kamu hanya perlu install satu plugin caching saja.

Setiap plugin caching memiliki metode caching berbeda. Tentu, setiap metode memiliki pros dan cons. Metode-metode tersebut bisa disesuaikan dengan kebutuhan blog WordPress kamu.

Strategi Pengujian

Plugin caching mana yang harus saya install?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya akan membandingkan sendiri plugin-plugin caching terpopuler WordPress.

Ada dua hal yang akan saya bandingkan, dari sisi ekternal seperti rating, jumlah download, fitur, dan kemudahan setup. Rating kemudahan adalah 1-5. Nilai yang menuju ke score 5 berarti semakin mudah, dan nilai yang menuju ke score 1 sebaliknya.

Dari sisi internal, saya menguji loading speed. Pengujian menggunakan tools:

Blog yang akan saya uji adalah kuantum.id. Blog ini memakai Thesis Framework dengan visitor kurang lebih 100 per hari. Di hosting di shared hosting Hawkhost.

Sebelum Caching

Tentu, kita saya akan membandingkan sebelum dan sesudah caching. Berikut adalah skor yang saya dapatkan sebelum caching plugin di-install.

Raw: Skor Google Page Speed

Raw: skor 91 untuk desktop

Skor 91 untuk desktop

Raw: skor 48 untuk mobile pengujian Google Page Speed

Skor 48 untuk mobile

Raw: Skor GTMetrix

GTMetrix: Loading seluruh halaman 4 detik.

Loading seluruh halaman 4 detik

Raw: Skor Webpagetest

Webpagetest: Loading seluruh halaman 1.725 detik.

Loading seluruh halaman 1.725 detik

Skor webpage test tanpa plugin

Skor webpage test tanpa plugin

Raw: Skor Pingdom Tool

Pingdom: Loading seluruh halaman 2.73 detik.

Loading seluruh halaman 2.73 detik

Terima kasih untuk Thesis Framework dan Hawkhost. Karena sebelum dipasang plugin caching pun sudah memberikan performa yang cukup baik.

Cache Enabler

Plugin pertama adalah Cache Enabler. Plugin ini memiliki rating 4.5/5 dengan jumlah install lebih dari 40000. Dari seisi kemudahan, plugin ini mendapatkan score 5.

Cache Enabler sangat cocok untuk kamu yang tidak mau ribet memikirkan banyak konfigurasi. Setelah berhasil install, kamu hanya akan dihadapkan pada beberapa opsi saja. Dan itupun sangat mudah dipahami untuk pemula.

Antarmuka Cache Enabler

Antarmuka Cache Enabler

Saya pikir, dengan antarmuka yang begitu sederhana fitur Cache Enabler hanya sedikit. Setelah pengujian dilakukam, ternyata mereka menerapkan DB caching, page caching, browser caching, gzip comparasion, dan minification.

Berikut adalah skor yang didapatkan setelah aktivasi Cache Enabler.

Cache Enabler: Skor Google Page Speed

Skor 96 untuk desktop pengujian Google Page Speed

Skor 96 untuk desktop

Skor 55 untuk mobile pengujian Google Page Speed

Skor 55 untuk mobile

Cache Enabler: Skor GTMetrix

GTMetrix: Loading seluruh halaman 3.2 detik.

Loading seluruh halaman 3.2 detik

Cache Enabler: Skor Webpagetest

Loading seluruh halaman 1.245 detik setelah aktivasi Cache Enabler

Loading seluruh halaman 1.245 detik

Skor webpage test setelah aktivasi Cache Enabler

Skor webpage test setelah aktivasi Cache Enabler

Cache Enabler: Skor Pingdom Tool

Pingdom: Loading seluruh halaman 2.14 detik.

Loading seluruh halaman 2.14 detik

W3 Total Cache

Plugin kedua adalah W3 Total Cache (W3TC). Plugin ini memiliki rating 4.3/5 dengan jumlah install lebih dari 1 juta. Dari seisi kemudahan, plugin ini mendapatkan skor tiga.

W3TC adalah salah satu plugin caching paling populer di komunitas WordPress. Plugin ini memiliki semua fitur caching. Browser caching, page caching, database caching, object caching, gzip compression, sampai advanced caching.

Fitur yang lengkap dari W3 Total Cache

Fitur yang lengkap dari W3 Total Cache

Plugin ini terlalu rumit untuk pemula, atau bahkan blogger lama.

Banyak setting yang seringkali membingungkan. Tetapi, berbeda dengan plugin lain, W3TC memiliki fitur export/import setting. Fitur ini sangat membantu untuk pemula yang tidak ingin disulitkan setup sendiri.

Karena fitur export/import kenapa saya memberikan skor 3. Jika tidak ada fitur ini, saya akan memberikan skor 2 dari sisi kemudahan.

Kamu bisa download setup W3TC percis sama seperti yang saya gunakan di pengujian ini. Copy isi file tersebut dan simpan dengan nama w3tc.json.

Diluar tingkat kesulitan. Dari semua pengujian, W3TC selalu memberikan skor terbaik.

W3TC: Skor Google Page Speed

Skor 94 untuk desktop pengujian Google Page Speed

Skor 94 untuk desktop

Skor 84 untuk mobile pengujian Google Page Speed

Skor 84 untuk mobile

W3TC: Skor GTMetrix

Loading seluruh halaman 3.1 detik.

Loading seluruh halaman 3.1 detik

W3TC: Skor Webpagetest

Loading seluruh halaman 1.251 detik setelah aktivasi W3 Total Cache

Loading seluruh halaman 1.251 detik

Skor webpage test setelah aktivasi W3 Total Cache

Skor webpage test setelah aktivasi W3 Total Cache

W3TC: Skor Pingdom Tool

Loading seluruh halaman 1.72 detik.

Loading seluruh halaman 1.72 detik

WP Super Cache

Plugin ketiga adalah W3 Super Cache (W3SC). Plugin ini memiliki rating 4.5/5 dengan jumlah install lebih dari 2 juta. Dari seisi kemudahan, plugin ini mendapatkan skor dua.

Alasan saya memberikan skor dua karena penggunanya diharuskan memasang script .httaccess secara manual. Tentu hal ini akan sangat rumit jika penggunanya belum pernah menyentuh server sama sekali.

WPSC adalah plugin caching WordPress paling tua. Dibuat langsung oleh Automattic, perusahaan yang juga me-maintenance WordPress. Meskipun demikian, bukan berarti plugin ini paling baik.

Antarmuka WP Super Cache

Antarmuka WP Super Cache

Plugin ini memiliki antarmuka yang sangat rumit untuk awam. Beberapa fitur seperti minify dan CDN tidak ada di WPSC.

Berikut adalah skor yang didapatkan oleh WP Super Cache:

W3SC: Skor Google Page Speed

Skor 96 untuk desktop pengujian Google Page Speed

Skor 96 untuk desktop

Skor 53 untuk mobile pengujian Google Page Speed

Skor 53 untuk mobile

W3SC: Skor GTMetrix

Loading seluruh halaman 2.6 detik.

Loading seluruh halaman 2.6 detik

W3SC: Skor Webpagetest

Loading seluruh halaman 1.704 detik setelah WP Super Cache

Loading seluruh halaman 1.704 detik

Skor webpage test setelah aktivasi W3 Super Cache

Skor webpage test setelah aktivasi W3 Super Cache

W3SC: Skor Pingdom Tool

Pingdom: Loading seluruh halaman 1.8 detik.

Loading seluruh halaman 1.8 detik

WP Fastest Cache

Plugin keempat adalah WP Fastest Cache (WPFC). Plugin ini memiliki rating 5/5 dengan jumlah install lebih dari 600000. Dari seisi kemudahan, plugin ini mendapatkan skor 4.

Skor 4 saya berikan karena mereka memiliki fitur sama lengkapnya dengan W3TC tetapi dengan antarmuka yang lebih intuitif. Pengguna akan dituntun dan diberikan penjelasan tentang setiap fitur caching yang akan di aktifkan.

Antarmuka WP Fastest Cache

Antarmuka WP Fastest Cache

Yang tidak saya suka dari WPFC adalah adanya fitur sederhana yang mereka jadikan premium. Fitur premium tersebut bahkan bisa kamu temuai di plugin W3TC. Saya tidak merekomendasikan plugin WPFC.

Berikut adalah skor yang diperoleh setelah aktivasi WP Fastest Cache:

WPFC: Skor Google Page Speed

Skor 94 untuk desktop pengujian Google Page Speed

Skor 94 untuk desktop

Skor 77 untuk mobile pengujian Google Page Speed

Skor 77 untuk mobile

WPFC: Skor GTMetrix

Loading seluruh halaman 3.7 detik

Loading seluruh halaman 3.7 detik

WPFC: Skor Webpagetest

Loading seluruh halaman 1.791 detik setelah aktivasi WP Fastest Cache

Loading seluruh halaman 1.791 detik

Skor webpage test setelah aktivasi WP Fastest Cache

Skor webpage test setelah aktivasi WP Fastest Cache

WPFC: Skor Pingdom Tool

Loading seluruh halaman 2.23 detik

Loading seluruh halaman 2.23 detik

Hyper Cache

Plugin kelima adalah Hyper Cache. Plugin ini memiliki rating 4.5/5 dengan jumlah install lebih dari 40000. Dari seisi kemudahan, plugin ini mendapatkan skor 2.

Saya memberikan skor 2 karena plugin ini mengharuskan penggunanya untuk meng-edit wp-config.php secara manual. Meng-edit wp-config.php akan sangat beresiko jika dilakukan oleh seorang pemula.

Antarmuka Hyper Cache

Antarmuka Hyper Cache

Menariknya plugin ini memiliki mode caching yang terpisah untuk mobile dan untuk desktop. Hyper Cache juga bisa memberikan kondisional theme baik untuk mobile dan untuk desktop.

Hyper Cache bisa membedakan caching mobile atau desktop

Hyper Cache bisa membedakan caching mobile atau desktop

Sebenarnya, tidak ada yang spesial cahing menggunakan Hyper Cache. Untuk beberapa pengetesan, plugin ini bahkan memberikan skor yang lebih buruk dibanding tanpa menggunakan caching. Saya tidak merekomendasikan Hyper Cache.

Skor Google Page Speed

Skor 92 untuk mobile pengujian Google Page Speed

Skor 92 untuk desktop

Skor 43 untuk mobile pengujian Google Page Speed

Skor 43 untuk mobile

Hyper Cache: Skor GTMetrix

Loading seluruh halaman 3.8 detik

Loading seluruh halaman 3.8 detik

Hyper Cache: Skor Webpagetest

Loading seluruh halaman 2.23 detik setelah aktivasi Hyper Cache

Loading seluruh halaman 2.23 detik

Skor webpagetest setelah aktivasi Hyper Cache

Skor webpagetest setelah aktivasi Hyper Cache

Hyper Cache: Skor Pingdom Tool

Loading seluruh halaman 2.12 detik

Loading seluruh halaman 2.12 detik

LiteSpeed Cache

Plugin terakhir adalah LiteSpeed Cache. Plugin ini memiliki rating 5/5 dengan jumlah install lebih dari 300000. Dari seisi kemudahan, plugin ini mendapatkan skor 3.

LiteSpeed Cache adalah plugin favorit saya setelah W3TC. Plugin ini memiliki fitur sama lengkapnya (bahkan lebih) dengan W3TC. Perbedaanya dibanding W3TC, LiteSpeed Cache memiliki antarmuka yang intuitif.

Antarmuka LiteSpeed Cache

Antarmuka LiteSpeed Cache

Yang sangat menarik. Mereka memiliki fitur “rahasia”, spesial untuk LiteSpeed web server. Fitur rahasia tersebut bisa memberikan loading speed lebih gila lagi, bahkan sekejap.

Spesial untuk LiteSpeed: Saya akan menulis review lengkap secara terpisah. Review LiteSpeed Cache tidak mungkin disatukan di post ini.

LiteSpeed Cache seperti di-optimize untuk Hawkhost. Dengan LiteSpeed Cache + Hawkhost kamu juga bisa unlock fitur-fitur seperti instant loading, Memcached Cache, dan Redis Cache. Fitur tersebut sangat jarang bisa kamu dapatkan di shared hosting.

Semua skor pengujian LiteSpeed cache hampir mendapatkan nilai tertinggi. Kamu bisa mencoba demo instant speed loading LiteSpeed Cache di kuantum.id.

LiteSpeed Cache: Skor Google Page Speed

Lihat, bagaimana powerful-nya LiteSpeed Cache + Hawkhost. Skor ini merupakan skor tertinggi yang saya dapatkan dalam pengujian Google Page Speed. Bahkan untuk mobile mendapatkan skor sempurna.

Skor 98 untuk mobile pengujian Google Page Speed

Skor 98 untuk desktop

Skor 100 untuk mobile pengujian Google Page Speed

Skor 100 untuk mobile

LiteSpeed Cache: Skor GTMetrix

Loading seluruh halaman 2.4 detik

Loading seluruh halaman 2.4 detik

Hyper Cache: Skor Webpagetest

Loading seluruh halaman 1.254 detik setelah aktivasi LiteSpeed Cache

Loading seluruh halaman 1.254 detik

Skor webpagetest setelah aktivasi LiteSpeed Cache

Skor webpagetest setelah aktivasi LiteSpeed Cache

LiteSpeed Cache: Skor Pingdom Tool

Loading seluruh halaman 1.45 detik

Loading seluruh halaman 1.45 detik

Hasil Pengujian

Angka dalam tabel menunjukan banyak detik yang diperlukan untuk me-loading satu halaman. Berikut adalah tabel lengkap dari hasil pengujian di atas:

Hasil pengujian caching plugin

Perbandingan Caching Plugin WordPress

Perbandingan Caching Plugin WordPress

Dari tabel dan grafik di atas, kita bisa lihat bahwa plugin caching terbaik adalah LiteSpeed Cache, ke-2 W3TC, ke-3 WPSC, ke-4 Cache Enabler, ke-5 WP Fastest Cache, dan terakhir Hyper Cache.

Kesimpulan

Caching adalah teknik yang dipakai untuk mempercepat loading blog dan meringankan beban server. Meskipun demikian, tidak semua blog memerlukan caching.

WordPress memiliki banyak plugin caching. Berikut adalah perbandingan fitur-fitur enam plugin caching WordPress terpopuler:

Tabel perbandingan Plugin Caching WordPress

Bagaimana saya memilih plugin caching yang cocok untuk blog?

Jika kamu tidak mau dipusingkan dengan setup yang rumit, maka Cache Enabler adalah pluging yang paling tepat. Tetapi, jika kamu ingin kemampuan lebih, kamu bisa menggunakan LiteSpeed Cache atau W3 Total Cache.

Cara memilih WordPress Caching

LiteSpeed Cache akan lebih optimal jika server mendukung redis cache dan dipadukan dengan server LiteSpeed seperti yang ada pada HawkHost.

Download .xlsx laporan caching di atas.

**

Jika kamu tertarik dengan tulsan-tulisan seperti di atas. Kamu bisa mendapatkannya langsung dengan cara memasukan email kamu di form di bawah. Atau kamu juga bisa bergabung di grup facebook pabelog.

Memiliki pertanyaan? atau pendapat tentang plugin caching WordPress?

Jangan sungkan untuk bertanya langsung dengan mengisi form komentar di bawah atau email saya langsung. Saya akan dengan senang hati membalasnya.

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.