Ya, pabelog.com sudah pindah hosting ke Qwords Hosting. Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya mulai memikirkan memotong biaya hosting.

Sesuai post itu, terdapat tiga alternatif yang saya pikirkan. Hawkhost, Stablehost, dan Qwords. Pada akhirnya pilihan pun jatuh ke Qwords Hosting.

Kenapa saya memilih Qwords Hosting dibanding Hawkhost atau Stablehost?

Ada 3 pertimbangan yang saya pakai dalam memilih hosting. Pertama adalah dari sisi pembaca blog. Kedua dari sisi teknis. Ketiga adalah harga. [click to continue…]

{ 2 comments }
public_html

Katakanlah kamu ingin mengganti root direktori untuk domain utama yang berlokasi di public_html ke public_html/domain.com. Kamu memindahkan isi web dari public_html ke public_html/domain.com

… Masalahnya, ketika kamu mengakses domain.com dari internet, yang kamu dapatkan bukanlah tampilan web. Melainkan struktur direktori seperti FTP. [click to continue…]

{ 0 comments }

Setelah hiatus blogging, saya bekerja sebagai fulltime front-end enginer. Sebagai front-end enginer dan memulai kembali blogging. Ada satu hal yang mengganjal di pikiran saya. Apakah font yang saya gunakan sudah tepat? …

… Setelah bekerja sebagai front-end enginer, saya belajar banyak bagaimana desain memengaruhi identitas sebuah prodak. Bagaimana hal seperti font bisa memengaruhi identitas yang ingin ditunjukan kepada calon pelanggan.

Karena font yang bagus saja tidak cukup. Font yang bagus dan tepat yang akan membuat suatu produk lebih diingat. [click to continue…]

{ 4 comments }

Saya Mulai Memikirkan Memotong Biaya Hosting

Setiap bulan setidaknya ada 45 USD yang saya habiskan untuk membayar hosting, jika dipikir-pikir setahun saya bisa habis 540 USD! Tentu, hal ini dulu sangat wajar karena saya menghost enam domain dan salah satu domain memiliki trafik yang cukup besar.

Tetapi itu dulu, saat satu web itu bisa mendatangkan 20k pengunjung per harinya. Sekarang? hanya 6k. Saya kira saya sudah harus mulai memikirkan downgrade! [click to continue…]

{ 3 comments }
AdPop

Hari senin kemarin saya mendapat email penawaran dari Eka Kozhina, beliau adalah regional manager jaringan periklanan AdPop di Indonesia. Eka menawarkan kepada saya bahwa salah satu web yang saya kelola menurutnya sangat cocok dengan AdPop. Website ini tidak lain berisi tentang konten-konten dummy.

Nah, AdPop adalah jaringan periklanan dengan jenis pop-under, iklan yang biasanya muncul ketika user melakukan suatu event (biasanya klik dan scroll). Saya sebenarnya sangat tidak suka dengan iklan jenis ini, pengalaman saya iklan ini menurunkan pengalaman pembaca, imbasnya bounce rate naik.

Spesial untuk kali ini saya akan mencobanya sampai payout. Jika payoutnya bisa mengalahkan AdNow dan AdSense saya akan mempertimbangkan untuk memasang AdPop. [click to continue…]

{ 0 comments }

Saya tidak pernah menyangka sudah mendapatkan komsi lebih dari Rp. 120 Juta dari AdNow. Nilai pastinya adalah USD 10768.84.

Hal pertama yang pasti akan ditanyakan teman-teman blogger adalah, berapa lama saya bisa dapat segitu?

Menurut catatan saya, pertama kali saya bergabung dengan AdNow adalah akhir bulan Desember 2015. Pembayaran pertama adalah USD 110.45. Saya tuliskan di blog personal saya. Artinya, jika sekarang adalah awal bulan 2017, berati saya sudah bergabung dengan AdNow selama 13 bulan.

Nah, pada tulisan kali ini, saya akan bercerita tentang kisah saya bagaimana awal mula bergabung dengan AdNow, isu-isu pahit tentang mereka, dan baaimana saya bisa mendapatkan penghasilah sebesar itu. [click to continue…]

{ 0 comments }

Alasan kenapa webmaster harus mempertimbangkan https dibandingkan http adalah keamanan dan kecepatan. Keamanan karena data yang dikirim dan diterima akan dienkripsi terlebih dahulu, kecepatan karena spesifikasi HTTP/2 hanya berlaku untuk protokol https saja.

Jika web yang kamu kunjungi masih menggunakan http, artinya mereka masih menggunakan spesifikasi HTTP/1.1 yang dikenalkan tahun 1999.

Kenapa sih HTTP/1.1 perlu segera di-update?

Ketika tahun 1999, internet tidak seperti sekarang. Dulu website masih sederhana dan hanya memiliki beberapa request saja. Sekarang, website sudah jauh lebih kompleks dan memiliki banyak request. HTTP/1.1 tidak didesain untuk website modern. Akhirnya performa HTTP/1.1 untuk web modern terus menurun.

Kabar baiknya, instalasi penerus HTTP/1.1 yaitu HTTP/2 ternyata tidak begitu sulit. Siapa saja yang pernah install WordPress sendiri pastikan bisa. Saya akan tunjukan pada tulisan ini. [click to continue…]

{ 1 comment }