Konten Berkualitas dan SEO di Blog itu Seperti Apa Sih?

Konten Berkualitas SEO

Setiap blogger profesional menyebutkan bahwa konten berkualitas itu sangatlah penting. Konten adalah raja. Mereka sepakat bahwa di SEO yang menjadi pemenang adalah konten yang berkualitas.

Tetapi pertanyaannya adalah:

Seperti apa sih konten berkualitas itu?
Bagaimana google membedakan konten berkualitas dengan sampah?

Dan hampir semua blog yang saya baca jawabannya sama. Intinya konten yang berkualitas itu adalah konten yang disajikan untuk manusia.

Tetapi, saya sangat tidak puas dengan jawaban seperti itu. Saya yakin, pikiran saya sama dengan kalian. Saya ingin jawaban lebih jelas dan pasti.

Menulis Konten Berkualitas itu Sulit … ?

Pada masa-masa awal saya blogging, saya sangat bingung tentang apa itu konten yang berkualitas.

Saya berpikir menulis konten blog yang berkualitas itu sulit. Pertama, alasannya adalah saya harus tahu kompetisi konten yang akan dibuat. Kedua, waktu yang dibutuhkan tidak sedikit …

Lebih sulit lagi ketika konten tersebut harus SEO friendly juga.

Bayangkan. Berapa banyak waktu yang akan saya habiskan untuk membaca konten-konten kompetitor. Berapa banyak waktu yang akan dihabiskan untuk menganalisa key point yang ada.

Ya, waktu yg tidak sedikit. Untuk tahu kompetisi yang ada, tentunya saya harus membaca semua konten kompetitor. Selanjutnya saya harus membuat itu jadi lebih baik.

Apalagi banyak blogger menyebutkan jika konten yang berkualitas itu panjang-panjang (lebih dari 2000 karakter).

Saya menulis sekuat tenaga, sepanjang mungkin, dengan harapan menghasilkan konten terbaik. Tetapi, saya masih insecure apakah konten yang saya buat akan diapresiasi atau tidak.

Mengingat masa-masa itu, seketika saya rasanya ingin menyerah saja menjadi Blogger.

Cara Saya Menulis Konten Berkualitas

Lagi-lagi, saya sangat bersyukur telah menulis blog dari 2008 …

… Sekarang saya tahu betul bagaimana saya harus menulis konten berkualitas. Saya ada ketika Google update algoritma SEO ke Penguin dan Panda tahun 2011. Saya melihat sendiri bagaimana algoritma tersebut mengubah persepsi tentang konten berkualitas.

Saya telah mengalami try and error untuk membuat konten berkualitas.

Pengalaman saya, menulis konten yang berkualitas itu tidak sesulit itu. Saya tidak setuju dengan pernyataan jika menulis konten berkualitas itu harus detail, panjang-panjang, atau lebih dari 2000 karakter …

… Kenyataannya menulis konten berkualitas tidak harus detail, panjang-panjang, atau lebih dari 200 karakter.

Mostly, waktu yang saya butuhkan untuk menulis konten berkualtas relatif lebih sedikit dan lebih efisien. Karena memang kebutuhan pembaca yang menyukai konten simpe dan to the point.

Don’t get me wrong tho.. Kamu boleh menulis konten yang dalam dan mendetail. Karena terdapat beberapa konten yang jelek jika disajikan secara simpel dan to the point, seperti konten tutorial dan list.

Lalu, bagaimana cara menulis konten berkualitas itu?

Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas

Saya akui bahwa jebakan menulis konten berkualitas yang keliru memang tidak bisa dihindari. Apalagi jika kamu baru memulai blogging. Itu juga yang terjadi pada saya.

Ingat ini:

Ukuran kualitas konten itu tidak dihitung berdasarkan seberapa banyak karakter yang kamu tulis. Seberapa detail artikel yang kamu tulis.

Dengan modal dan pengalaman seadanya, kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan tulisan-tulisan seperti wikipedia atau blog-blog yang memiliki modal besar.

Web seperti Wikipedia dan blog dengan modal besar memiliki resource yang kuat untuk menulis konten. Resource seperti images stock, penulis yang banyak, atau riset-riset untuk mendukung tulisan mereka.

Kabar baiknya, kamu bisa mengalahkan wikipedia atau blog-blog yang memiliki modal tinggi dengan tulisan yang original dan unik.

Jadi, tulisan yang original dan unik itu seperti apa?

Tidak banyak blogger yang sadar. Bahwa tidak semua orang memerlukan informasi yang sangat detail seperti wikipeida atau blog-blog dengan modal besar itu …

Kebanyakan orang mencari jawaban simpel dari masalah mereka.

Hormatilah waktu pembaca blog dengan cara menyajikan konten yang simpel dan mudah dipahami.

Ketika membuat konten blog, jangan pernah berpikir berapa banyak kata yang harus ditulis. Atau harus berapa banyak seri artikel yang bisa dibuat. Kamu hanya perlu berpikir seberapa original dan membantu tulisan yang kamu buat.

Hindari bertele-tele tidak jelas. Konten berkualitas bukan tentang kuantitas, tetapi tentang seberapa besar impact dari tulisan.

Relevan, Gunakan Struktur Konten yang Jelas

Membuat konten memang lama dan membosankan. Kamu menulis sesuatu, lalu menunggu tulisan itu dibaca dan berharap orang-orang membicarakan atau membagikan tulisan tersebut di sosial media mereka.

Tetapi coba pehatikan ini: setiap tulisan yang kamu buat, adalah bagian kecil dari blog kamu. Apa yang akan orang-orang bicarakan tentang blog kamu.

Bagaimana jika kamu memiliki banyak tulisan yang saling tidak berhubungan. Apa yang akan mereka bicarakan. Tulisan yang tidak relevan akan membuat pembaca blog bingung dan merusak kredibilitas kamu sebagai penulis blog.

Tulisan setiap post harus merupakan bagian kecil dari niche yang kamu pilih. Bayangkan sebuah buku, niche yang kamu pilih adalah sebuah buku. Dan tulisan-tulisan yang kamu buat adalah chapter-chapter dari buku tersebut.

Nah sekarang kita akan berbicara bagaiama menulis chapter yang baik untuk buku yang kamu buat.

Semua buku best-seller, buku terbaik, pasti memiliki struktur yang jelas. Ini sangat identik dengan blog post. Saya biasanya membaginya ke dalam tiga bagian kecil.


Bagian pertama dari tulisan haruslah ringan, mudah dimengerti, dan pembaca tahu betul apa yang akan mereka baca setelah membaca bagian pertama.

Bagian ini adalah big picture dari tulisan yang akan kamu buat. Di bagian ini kita akan menulis tentang latar belakang, dan masalah-masalah apa saja yang ada.

Bagian ini sangat krusial, bagian ini adalah umpan agar pembaca membaca bagian selanjutnya. Kuncinya, di bagian ini kita harus membuat pemaca terkoneksi dengan tulisan kita..

…caranya adalah dengan membuat kalimat yang seolah-olah kamu memiliki masalah yang sama.

Contohnya:
“Sama seperti kamu, saya juga mengalami apa yang namanya … , tetapi akhirnya saya bisa melewati itu …”.

Tepat di akhir bagian pertama ini, saya bisanya selalu melemparkan pertanyaan agar pembaca penasaran bagaimana solusi yang saya tawarkan.


Di bagian kedua kita mulai menuliskan dengan jelas tentang apa-apa saja solusi yang saya tawarkan. Seringkali saya juga menyertakan bukti-bukti pendukung.

Di bagian ini kamu bisa menyisipkan gambar pendukung, video pendukung, atau infographic.

Bagian ini harus klimaks, memberikan impact pada pembacanya. Inilah alasan kenapa saya menyisipkan pertanyaan di akhir bagian pertama.

Jika kamu berhasil memberikan Oh-moment kepada pembaca, artinya kamu berhasil membuat tulisan yang memberikan impact. Saat seseorang mendapatkan oh-moment, sangat mungkin tulisan kamu akan dibagikan di social media mereka.

Ingat, rahasianya jangan lebay dan bertele-tele. Langsung ke poin utamanya.


Bagian ketiga adalah bagian dimana kamu menulis ringan lagi. Bagian ini adalah kesimpulan atau happy ending dari tulisan.

Tulislah kesimpulan dengan jelas. Sebagian orang mungkin hanya akan membaca kesimpulan saja. Mereka akan men-skip bagian utamanya.

Dengan membuat kesimpulan, tujuan kita sebenarnya adalah untuk menggiring orang yang tidak membaca bagian utama, agar membaca bagian utama.

Bagaimanapun jika kesimpulan yang dibuat cukup bagus, mereka akan penasaran untuk membaca bagian utamanya.

Nah…

Jika memang tulisan yang kamu tulis adalah tulisan bersambung, tulislah kerterangan singkat tentang apa yang akan kamu tulis di-tulisan selanjutnya. Lalu akhiri dengan pertanyaan.

Ukurannya adalah, jika di bagian ketiga kamu bisa membuat pembaca berpikir. Artinya kamu berhasil. Sebisa mungkin, buat pembaca kamu penasaran.

Perhatikan Typography Tulisan

Apa yang membuat bounce rate begitu tinggi?

Selain tulisan yang tidak relevan, salah satunya adalah typography yang buruk.

Coba kamu perhatikan dibawah. Mana yang paling kamu suka.

Typograhy

Secara psikologis, mata manusia akan lelah jika membaca tulisan yang sangat rapat.

Gambar di atas contohnya. Manusia cenderung akan membaca lebih lebih releks di bagian pertama (meskipun lebih panjang), dibandingkan di bagian ke dua.

Karena itu, perhatikan kerapatan dan line-height dari tulisan. Untuk lebih detailnya, kamu bisa membaca Golden Ratio Typograpy.

Masukan Elemen Visual dan Story Telling

Kenapa orang-orang cenderung lebih suka komik atau novel, dibandingkan buku ilmiah?

Jawabannya pertama seperti yang saya sebutkan di atas sebelumnya, komik atau novel memiliki alur yang kompleks dan berliku-liku. Kedua, komik atau novel memiliki gambar visual yang bagus dan tentunya story telling.

Nah, jika kamu memiliki kemampuan story telling, selamat! kamu memiliki potensi untuk diikuti banyak orang.

Saya, meskipun saya tahu story teling penting. Sampai saya menulis titik ini, belum bisa menulis story teling yang baik. Yang saya lakukan untuk menutupi hal ini adalah dengan memberikan elemen visual pendukung yang relevan, seperti data visualisasi dan infographic.

Opini, Original, dan Impact

Bagaimana saya tahu bahwa tulisan yang akan saya buat itu original dan bisa membantu calon pembaca?

Tulisan original datang langsung dari pemikiran kamu. Kamu pastinya punya ide atau opini tentang suatu masalah. Sudut pandang kamu tentang masalah itu yang akan kamu tulis. Dan itu pasti original dan unik.

Pengalaman saya, pembaca selalu menghargai tulisan dengan sudut pandang original.

Selanjutnya, untuk tahu seberapa membantu tulisan. Itulah perlunya keyword research. Tujuan dari keyword research adalah untuk mengetahui apa yang calon pembaca butuhkan.

Kamu tidak semata-mata menulis konten. Kamu juga harus tahu dari mana calon pembaca datang. Keyword apa yang mendatangkan mereka.

Gunakan tools favorit kamu untuk melakukan keyword research. Dengan melakukan keyword research secara tidak langsung kamu juga akan membuat tulisan yang SEO friendly.

Pada akhir tulisan, tanyakan apakah tulisan yang kamu buat sudah membantu mereka. Jika belum, perbaiki dan perbaiki lagi sampai memenuhi kebutuhan mereka.

Minta pendapat pada teman yang tepat tentang tulisan yang kamu buat. Atau kamu bisa email tulisan tersebut pada blogger yang lebih senior.

Posisikan diri Sebagai Audience

Cara lain untuk mengetahui seberapa membantu tulisan adalah memposisikan diri kamu sebagai calon pembaca.

Bagaimana caranya?

Simpel, sebelum mem-publish tulisan. Baca tulisan yang kamu buat terlebih dahulu. Dari sana, saya yakin kamu pasti akan menemukan kerancuan dan gramatical error.

Jika kamu rasa tulisan tersebut masih bertele-tele, potong tulisan tersebut. Buat jadi lebih simpel dan mudah dimengerti.

Ngomong-ngomong soal tulisan bertele-tele, saya tekankan berkali-kali karena banyak blogger yang terjebak dengan hal ini.

Kesimpulan

Konten berkualitas bukan tentang seberapa banyak kata yang bisa kamu rangkai.

Bukan pula seberapa detail tulisan yang kamu buat.

Konten berkualitas adalah tentang impact dan seberapa membantu tulisan bagi pembaca. Buat tulisan se-simpel dan se-mudah dimengerti mungkin. Hindari tulisan yang bertele-tele.

Menulis konten berkualitas memerlukan banyak proses – dari reset kata kunci, mencari tahu masalah pembaca, menuangkan ke dalam tulisan menarik, sampai memberikan kesimpulan.

Sekarang, coba baca tulisan-tulisan blog yang telah kamu buat.

Apakah tulisan-tulisan yang kamu buat sudah relevan dengan niche blog?

Apakah tulisan kamu cukup memberikan impact kepada pembaca?

Berapa nilai yang akan kamu berikan untuk tulisan tersebut?

Selanjutnya, bandingkan dengan blog kompetitor.

Apakah kamu sudah cukup percaya diri untuk mengalahkan sang kompetitor?

Ya, jawaban kamu tidak akan jauh berbeda dengan posisi SERP yang kamu peroleh.

Saya yakin kamu juga memiliki sudut pandang berbeda, jangan ragu untuk menyempaikan pendapat kamu. Saya sangat menghormati setiap pendapat pembaca blog ini. Shoot it!

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.