Kapan Saya Memerlukan Managed WordPress Hosting

managed-services

Satu bulan terakhir ini saya tidak menulis apa-apa. Saya meminta maaf m(_ _)m …

Buat yang belum tahu, sekarang saya bekerja sebagai fulltime software engineer.

Karena alasan itu, ada target software yang harus release sebelum bulan Oktober. Software ini berupa mobile app, mirip MooC, yang nantinya akan digunakan untuk membantu pelajar-pelajar Indonesia belajar secara online dan mandiri.

Oke, back to the topic..

Meskipun terbilang terbengkalai dengan kesibukan saya sekarang. Tetapi pikiran saya bisa tenang tidak memikirkan maintenance hosting. Alasannya karena sekarang saya memakai managed hosting.

Saya berbicara hosting sekelas VPS atau sejenisnya, di mana maintenance bukan urusan hosting provider.

Dahulu ketika saya sedang sibuk-sibuknya, sering saya mengabaikan maintenance. Akibatnya masalah-masalaih kecil sampai besar muncul.

Beruntung, sejak awal tahun ini saya memakai managed hosting. Saya tidak perlu repot memikirkan detail-detail kecil. Pada post ini saya akan menulis kenapa atau kapan sebaiknya kita menggunakan managed hosting

So, jika teman-teman blogger punya masalah yang sama, jangan sampai skimming..

Kapan Perlu Managed Hosting?

Normalnya, ketika blog kamu tidak lagi bisa memakai shared hosting. Hosting provider kamu akan meminta kamu untuk meng-upgrade layanan hosting.

Tetapi kadang-karang ada juga hosting provider yang tidak peduli itu. Implkasinya, blog kamu sangat berat diakses dan jika dibiarkan terus, hosting provider akan dengan semena-mena mematikan blog kamu.

Pengalaman saya, shared hosting dengan WordPress yang sudah dioptimasi bisa menampung sampai 5000 pengunjung per hari. Lebih dari itu masalah-masalah mulai muncul seperti “error establishing a database connection”, “502 Bad Gateway”, atau sampai tidak bisa diakses sama sekali.

Tanda-tanda di atas menunjukan jika kamu sebaiknya mengupgrade layanan hosting sesegera mungkin.

Karena jika dibiarkan blog kamu secara perlahan akan turun dari serp karena google tahu blog kamu susah diakses.

Ada dua alternatif…

Kamu bisa konfigurasi VPS/server secara manual atau menggunakan jasa Managed WP hosting.

Cara pertama konfigurasi VPS secara manual akan sangat beresiko jika kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan. Saya pernah menulis tutorial cara pertama dan feedback yang diberikan cukup beragam.

Karena konfigurasi dilakukan secara manual, harga VPS menjadi sangat murah. Bisa sampai 80% lebih murah!

Tetapi ingat, jika terjadi apa-apa, VPS provider tidak akan membantu troubleshooting.

Cara kedua adalah menyerahkan semuanya kepada hosting provider, mulai dari konfigurasi, optimasi, sampai backup. Tentu harganya menjadi lebih mahal. Tetapi kamu akan mendapatkan ketanangan pikiran.

Resiko Yang Terjadi Jika Mengabaikan Maintenance

Sebenarnya apa saja sih yang harus saya maintenance?

Up and running VPS untuk menjalankan WordPress terbilang relatif mudah, sekarang ada banyak script helper yang bisa digunakan. Kompleksitas justru datang setalah server Up and running.

Pertama adalah update software pendukung.

Software pendukung adalah software yang dipakai untuk membuat software utama berjalan dengan baik. Katakanlah software utama adalah WordPress, software pendukungnya adalah MySQL server, Apache web server, dll.

Tahukan kamu kenapa software harus selalu diupdate?

Karena software tersebut berjalan di atas software lain. Jika software lain terjadi masalah makan akan berimbas secara tidak langsung ke software utama.

Untuk itulah update secara berkala diperlukan, selain untuk mencegah hal-hal tidak diinginkan, juga untuk membuat software utama berjalan lebih baik lagi.

Kedua monitoring kesehatan server.

What? Kesehatan seperti apa yang harus dimonitoring?

Beruntung, selama ini kamu memakai shared hosting. Shared hosting dibelakang sebenarnya melakukan monitoring keseharan server.

Tetapi tidak untuk VPS hosting. Kamu harus melakukannya sendiri.

Monitoring basically melakukan pengecekan apakah banwidth server masih sehat, apakah ping ke server terdekat masih normal, apakah memori atau CPU masih berjalan secara normal, dll.

Monitoring dilakukan untuk melakukan aksi preventif jika memang terjadi masalah. Mengabaikan monitoring sama saja kamu memberikan ruang pada masalah kecil untuk berkembang.

Kamu tidak perlu melakukan ini secara manual, sudah banyak tools pendukung untuk melakukan ini.

Average Load

Top processes

Pada gambar di atas, saya memakai tool NodeQuery untuk melakukan monitoring.

Ketiga Security.

Masalah security adalah masalah yang selalu membuat saya tidak tenang. Saya selalu takut jika terjadi apa-apa. Security juga yang selalu menjadi concern utama saya memikirkan managed hosting.

Bayangkan jika karena alasan security blog kiga dicuri, data kartu kredit client kita tersebar, dll.

Keempat backup software.

Katakanlah ketiga hal sebelumnya bersifat opsional, untuk backup adalah hal yang wajib dilakukan.

Backup adalah proses melakukan capturing sofrware pada saat waktu tertentu. Tujuannya adalah jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, software yang dicapture tersebut bisa dekembalikan pada kondisi yang sama.

Backup sofware di sini bisa berupa backup lokal dan backup universal.

Backup lokal adalah backup yang dilakukan khusus untuk software utama dan pendukungnya saja. Untuk WordPress berarti backup yang dilakukan adalah backup database dan folder wp-content.

Nah, backup universal adalah backup semua isi vps yang dipakai, sampai level sistem operasi sekalipun.

Biasanya yang dilakukan untuk shared hosting, mereka melakukan backup universal. Tetapi untuk VPS, saya rasa cukup backup lokal saja. Nah, VPS yang bagus biasanya menyertakan backup universal secara berkala.

Software backup WordPress yang bisasa saya pakai adalah VaultPress.

Managed WP yang Saya Pakai

Dengan memakai managed hosting, tentu masalah-masalah yang ada pada VPS sebelumnya tidak ada. Hanya saja kita setuju bahwa harga yang dibayar lebih mahal.

Percaya atau tidak, saya sudah lebih dari 10x mencoba banyak managed WP. Yang paling saya ingat adalah DreamPress, Kinsta, WPEngine, KnownHost Managed, dll.

Pada akhirnya saya menemukan masalah yang sama. Harga yang membengkak ketika scaling. Karena secara umum, mereka melakukan bill per jumlah user.

Sekali, saya pernah menaruh harapan pada DreamPress, harga yang ditawarkan sangat murah dan melakukan bill per resource yang digunakan. Tetapi saya sadar bahwa DreamPress memiliki lokasi di US sedangkan mayoritas pengunjung dari Indonesia.

Sekarang saya memakai Cloudways. Managed hosting ini menarik, karena mereka membebaskan kita untuk memilih cloud provider unmanaged. Setelah memilih selanjutnya mereka sendiri yang akan melakukan managed.

Pada saat tulisan ini dibuat ada lima cloud provider yang tersedia. DigitalOcean, Linode, Vultr, AWS, dan Google Cloud. Favorit saya adalah Linode.

Antarmuka Cloudways

Antarmuka Cloudways

Pemakaian Cloudways sejauh ini sangat fair dan memuaskan. Apalagi dengan Linode, DigitalOcean, dan vultr. Dengan spesifikasi yang sama harga yang saya bayar jauh lebih murah dibanding kebanyakan Managed Hosting.

Bagaimana menurut kalian? Apakah blog teman-teman sudah perlu memakai managed hosting?

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment